Dec 012006
 

Yup, betul. Kita bisa install Fedora dengan file-file .iso yang kita download. Walaupun anda mempunyai CD/DVD burning dan ingin membakar CD atau DVD, install melalui file .iso yang ada di hardisk tetap menarik karena jauh lebih cepat. Gak sampai setengah jam Fedora baru anda telah siap! Anda cuma punya partisi fat32? Juga bisa.

Yang perlu disiapkan:

  • Boot loader yang dipakai adalah GRUB. Kalau sebelumnya anda sudah mempunyai salah satu distro GNU/Linux biasanya boot loadernya sudah GRUB. Kalau belum, bisa bikin boot disk yang akan menjalankan GRUB terlebih dahulu. Minta tolong teman yang sudah pakai GRUB dan jalankan perintah-perintah ini:
    Masuk ke folder grub
    # cd /boot/grub/
    Siapkan disket, periksa apakah ada file stage1 dan stage2 di folder ini. Lanjutkan..
    # dd if=stage1 of=/dev/fd0 bs=512 count=1
    # dd if=stage2 of=/dev/fd0 bs=512 seek=1
    Dan siaplah disket GRUB-nya.
  • File .iso dari Fedora baik CD iso ataupun DVD iso. Letakkan dalam satu folder dan tulis letaknya. Oh ya, partisi tempat dimana iso itu berada harus diingat juga dan lakukan konversi untuk perintah di GRUB. Misalnya ada dipartisi /dev/hda4, konversinya (hd0,3). Kalau di /dev/hdb6 konversinya (hd1,5). Untuk di windows kalau di drive C biasanya dikonversi ke (hd0,0), tapi kalau di drive D biasanya dikonversi ke (hd0,4).
  • File-file yang diperlukan untuk booting ke Fedora installer, file-file ini bisa diambil dari CD1 file iso atau dari DVD, satu folder yang bernama isolinux. Bisa juga di-download dari mirror-nya Fedora.

Yak, itu saja. Ada lagi dink, keingintahuan dan backup data-data yang ada di hardisk anda tentunya. Kalau semua sudah, ayo kita mulai… Continue reading »

Jun 052006
 

Sebetulnya Indonesia sudah punya IGOS, tetapi gaungnya tidak terlalu terdengar. Seperti yang menristek bilang implementasi IGOS cenderung lambat atau bahkan masih sekedar lip service. Apakah perlu adanya peraturan yang lebih kuat untuk implentasi tersebut? Mungkin akan banyak pihak yang tidak setuju, terutama dari vendor propertiary software. Dan mungkin ada benarnya juga karena hal itu tidak memberikan kesempatan yang sama kepada semua pihak.

Ada jalan lain sebenarnya, seperti yang sedang diproses oleh pemerintah/parlemen Denmark untuk menerapkan open standard terhadap software-software yang dipakai untuk keperluan publik. Dengan cara seperti ini vendor propertiary tidak bisa menghindar untuk mengadopsi open standard. Kalau open standard sudah diterapkan, maka pengguna bisa lebih leluasa menentukan software yang akan dipakai, tidak tergantung pada satu vendor saja.

Tentu kita bisa berdebat bahwa dokumen yang dibuat dengan Words sekarang bisa dibuka dengan OpenOffice.org, jadi tidak perlu lagi hal semacam itu. Untuk saat ini memang benar, tetapi untuk versi Words selanjutnya yang memakai format baru akankah OpenOffice.org bisa mendukung? Hal ini bukan masalah teknis, lebih ke masalah legal karena akan ada perdebatan hukum tentang legalkah kalau OpenOffice.org dan word processor yang lain mendukung format baru Words.

Jadi, saya mengharapkan agar pemerintah kita bisa sebanyak mungkin menggunakan open standard agar ke depan kita tidak terlalu bergantung kepada vendor tertentu.

May 012006
 

RMS melakukan demonstrasi dan demonya sangat kontras jika dibandingkan dengan demo-demo yang ada di Indonesia. Dari artikel di fsf ini kita bisa lihat bagaimana gaya dia dalam memprotes sesuatu dengan cara-cara yang elegan. Cukup dengan membawa kertas putih bertuliskan sesuatu yang dimaksud dan membagi-bagikan selebaran yang sama isinya ke peserta seminar, dia cukup mendapatkan perhatian yang diperlukan untuk menyampaikan maksudnya. Tidak perlu berteriak-teriak, tidak perlu berorasi sampai mulut berbusa, tidak perlu mengerahkan massa (yang kadang kita harus mengeluarkan duit untuk mendapatkannya), cukup berdiri sembil memegangi pamflet dan mendengarkan seminar. Continue reading »

%d bloggers like this: