Oct 052012
 

Virtual machine dari Bitnami merupakan VMWare virtual machine. Agar bisa dijalankan menggunakan QEMU-KVM dengan antar muka virt-manager, perlu kita rubah dulu menjadi img file yg didukung oleh QEMU-KVM. Berikut langkah-langkahnya:

  • Download VM dari Bitnami, misal http://bitnami.org/files/stacks/lampstack/5.3.17-0/bitnami-lampstack-5.3.17-0-ubuntu-12.04.zip
  • Unzip file tersebut:
    $ unzip bitnami-lampstack-5.3.17-0-ubuntu-12.04.zip
  • Hasilnya adalah beberapa file vmdk dan lainnya, file img-nya adalah bitnami-lampstack-5.3.17-0-ubuntu-12.04-s00*.vmdk. Ini yg perlu kita rubah menjadi img yang didukung QEMU-KVM
  • Rubah semua vmdk img tersebut menggunakan qemu-img
    $ cd bitnami-lampstack-5.3.17-0-ubuntu-12.04
    $ qemu-img convert -p -O qcow2 bitnami-lampstack-5.3.17-0-ubuntu-12.04-s00* bitnami-lampstack.qcow2
    Hasil img-nya berformat qcow2 dan kita namakan bitnami-lampstack.qcow2
  • Kita akan menggunakan virt-manager untuk aplikasi vm-nya. Pindahkan img tersebut ke folder default img-nya libvirt
    # mv /home/mht/Downloads/bitnami-lampstack.qcow2 /var/lib/libvirt/images/
  • Selanjutnya jalankan virt-manager dan buat vm baru dengan pilihan menggunakan file img yang sudah ada

Nah, virtual appliance dari Bitnami bisa dijalankan tanpa vmware ataupun virtualbox ;-)

Mar 152012
 

Streaming server Icecast bisa di setting untuk pengguna tertentu yang memasukkan username dan password. Backend pengguna ini bisa macam-macam seperti database server atau LDAP. Settingannya ternyata mudah! Berikut adalah setingan Icecast yang memanfaatkan LDAP sebagai backend pengguna.

Pertama-tama kita tentukan URL untuk stream yang perlu autentikasi dan opsi-opsinya. Setingan ini ada di file /etc/icecast.xml

...
<mount>
  <mount-name>/stream</mount-name>
  <authentication type="url">
    <option name="listener_add" value="http://example.com/auth/connect.php" />
  </authentication>
</mount>
...

Yang perlu diperhatikan adalah tipe autentikasi “url” dan opsi dengan nama “listener_add”, yaitu ketika ada pendengar yang mencoba akses akan diautentikasi menggunakan file connect.php di server example.com. Value disini harus bisa diakses dari luar walau file connect.php dan icecast-nya berada dalam satu mesin. Nah, ini isi dari file connect.php:

<?php
$bind_user = $_REQUEST["user"];
$bind_pass = $_REQUEST["pass"];

$ds = ldap_connect("ldap://example.com");
if($ds) {
  $r = ldap_bind($ds, "uid=$bind_user,ou=people,dc=example,dc=com", $bind_pass);
  if($r) {
    header('icecast-auth-user: 1');
    header('icecast-auth-message: OK');
    ldap_close($ds);
    exit;
  } else {
    header('icecast-auth-user: 0');
    header('icecast-auth-message: Wrong username and/or password!');
    ldap_close($ds);
    exit;
  }
} else {
  header('icecast-auth-user: 0');
  header('icecast-auth-message: fail to connect to LDAP server');
  exit;
}
?>

Segitu saja, sederhana sekali bukan? ;-) Yang perlu diperhatikan adalah parameter kedua dari ldap_bind, ini tergantung dari data di ldap server kita, format diatas cocok untuk openldap server dan 389 directory server.

Untuk autentikasi dan sekaligus menghitung lama koneksi contohnya bisa dilihat di contoh yang disertakan pada paket Icecast dan baca dokumentasi dari Icecast.

Tautan:
Icecast, Icecast Documentation, 389 Directory Server, OpenLDAP

Apr 152011
 

Ingin menginstall sistem operasi (SO) GNU/Linux di banyak komputer sekaligus? Malas install satu persatu? Mesin virtual bisa diminta bantuannya!

SO GNU/Linux dua-satu tahun terakhir ini lebih mudah dipindah-tempatkan. Install di satu komputer dan akan jalan juga bila dipindah ke komputer lain. Ini memudahkan kita bila ingin menginstal banyak SO sekaligus. Install di satu tempat, baru nanti kita distribusikan ke komputer lain. Menginstall satu-satu? Tidak perlu, kita install di satu hard disk dan kita bisa duplikasi. Cara duplikasinya macam-macam, bisa memakai partimage, dd, ddrescue dan aplikasi lain yang pada dasarnya menduplikasi (partisi) hard disk. Partimage menduplikasi partisi, sedang dd dan ddrescue menduplikasi hard disk.

Lalu apa kaitannya dengan mesin virtual? Kita bisa install SO baru di mesin virtual dan hard disk virtual-nya bisa duplikasi ke hard disk beneran! dd dan ddrescue akan meng-copy data pada level blok. Bila kita punya hard disk 80GB ingin diduplikasi dengan dd/ddrescue maka 80GB itu yg di-copy, bukan data yang ada di hard disk (yg pasti lebih kecil dari kapasitas hard disk). Jadi kebayang berapa lama waktu dibutuhkan untuk duplikasinya, dan hard disk 80GB juga sudah mulai susah dicari ;-) Partimage bisa meng-copy datanya saja, tapi tidak kita bahas disini. Nah, kalau pakai mesin virtual kita bisa tentukan sekecil mungkin hard disk virtualnya dan nantinya kita duplikasi ke hard disk yang lebih besar, tinggal kita resize saja partisi hasil duplikasinya. Continue reading »

Aug 032009
 

DRBD sudah, Heartbeat juga sudah, sekarang tinggal menggabungkan keduanya dan memilih layanan apa saja yang akan tersedia di HA kita. Layanan yang akan kita pasang sebagai HA adalah vitual IP, dimana IP ini yang akan dituju oleh kilen, file server dengan nfs dan samba, web server httpd dengan php-nya serta database server MySQL. Sebelum mengintegrasikan layanan tersebut dengan heartbeat ada baiknya dicobakan dulu tanpa heartbeat dan sudah jalan dengan benar.

Agar semua perubahan data dari layanan tersebut dapat tersinkronisasi dengan baik maka ada beberapa lokasi data layanan diatas akan ditempatkan di folder yang tersinkronisasi oleh drbd, dalam hal ini di folder /drdisk. Untuk file server kita tempatkan di /drdisk/shares. Halaman web kita tempatkan di /drdisk/html dan file untuk php session kita tempatkan di /drdisk/php/session, sementara file upload lewat php tempat penyimpanan sementaranya ada di /drdisk/tmp. MySQL database di folder /drdisk/mysql.

Pada tutorial sebelumnya kita matikan dulu layanan drbd, nah sekarang kita hidupkan di kedua komputer dan kerjakan pembuatan folder diatas pada komputer yang dijadikan primary.

[root@hb1 ~]# drbdadm primary r0
[root@hb1 ~]# mount /dev/drbd1 /drdisk/
[root@hb1 ~]# mkdir -p /drdisk/shares /drdisk/html /drdisk/mysql /drdisk/tmp /drdisk/php/session
[root@hb1 ~]# chmod ugo=rwXt /drdisk/tmp/ /drdisk/shares/
[root@hb1 ~]# chmod 770 /drdisk/php/session/
[root@hb1 ~]# chgrp apache /drdisk/php/session/

/drdisk/tmp dan /drdisk/shares permission-nya kita jadi seperti /tmp. /drdisk/php/session ber-permisson 700 dan group owner adalah apache. Setelah itu kita konfigurasi masing-masing layanan agar menggunakan folder yang telah kita sediakan tersebut. File-file konfigurasi ini harus sama di kedua komputer.

Untuk nfs file konfigurasinya adalah file /etc/exports dan isinya cuma satu baris saja:

/drdisk/shares            *(rw,squash_uids=0-99,sync)

Untuk keterangan variabelnya coba saja cari tutorial tentang nfs di internet ;-)

Untuk samba, tambahkan baris berikut pada file /etc/samba/smb.conf:

[shares]
        comment = Shares Stuff
        path = /drdisk/shares
        public = yes
        writable = yes
        printable = no

File-file yang ada di /etc/samba juga perlu diduplikasi di komputer satu lagi.

Untuk apache (httpd) file yang perlu dirubah adalah /etc/httpd/conf/httpd.conf. Cari ‘DocumentRoot’ dan isikan dengan /drdisk/html. Kemudian cari ‘<Directory “/var/www/html”>’ dan ganti menjadi ‘<Directory “/drdisk/html”>’. Untuk konfigurasi php, silahkan rubah file /etc/php.ini pada bagian sbb:

....
; Temporary directory for HTTP uploaded files (will use system default if not
; specified).
upload_tmp_dir = /drdisk/tmp
....
session.save_path = "/drdisk/php/session"
....

Pada dasarnya itu saja yang dirubah, kalau ternyata masih ada yang perlu dirubah karena terkait dengan modul lain silahkan baca-baca di www.php.net

Untuk MySQL file konfigurasi yang dirubah adalah /etc/my.cnf:

[mysqld]
datadir=/drdisk/mysql
socket=/var/lib/mysql/mysql.sock
user=mysql
# Default to using old password format for compatibility with mysql 3.x
# clients (those using the mysqlclient10 compatibility package).
old_passwords=1

[mysqld_safe]
log-error=/var/log/mysqld.log
pid-file=/var/run/mysqld/mysqld.pid

Nah, kalau semua layanan diatas sudah jalan dengan baik tanpa terintegrasi dengan heartbeat, maka kini saatnya mengintegrasikan dengan heartbeat. Layanan-layanan diatas berposisi off pada waktu komputer dinyalakan (termasuk drbd), heartbeat yang akan menyalakannya.

File konfigurasi untuk layanan diatas kita tuliskan (misal) di hb-resources.xml dan hb-constarint.xml. hb-resources.xml untuk mengatur setingan layanan dan hb-constaint.xml untuk mengatur batasan/urutan layanan dinyalakan. Continue reading »

Jul 302009
 

Nah ini aplikasi yang menjadi tulang punggung HA, Heartbeat dari Linux HA. Silahkan baca-baca link tersebut untuk mengetahui lebih jauh apa itu heartbeat.

Untuk mengaktifkan heartbeat ini ternyata cukup mudah. Rubah file /etc/ha.d/ha.cf, bikin aja kalau belum ada, dengan isi sebagai berikut:

use_logd on
udpport 694
keepalive 1 # 1 second
deadtime 10
initdead 80
bcast eth0
node hb1 hb2
crm yes
auto_failback yes

isi dari node disesuaikan dengan nama-nama komputernya. Setelah itu membuat file /etc/ha.d/authkeys untuk autentikasinya dengan menggunakan script ini:

cat <<-!AUTH >/etc/ha.d/authkeys
# Automatically generated authkeys file
auth 1
1 sha1 `dd if=/dev/urandom count=4 2>/dev/null | openssl dgst -sha1` !AUTH

Karena file /etc/ha.d/authkeys sensitif, maka rubah permission-nya menjadi 600 (-rw------). Yak segitu saja, heartbeat siap dijalankan. Di fedora based tinggal jalankan ‘service heartbeat start‘ dan jangan lupa service heartbeat di on-kan waktu komputer dihidupkan.

Tapi dengan konfigurasi seperti itu saja heartbeat tidak banyak berguna, harus ada service-service yang ditangani heartbeat yang menjadikannya fungsional sebagai HA, misal visual IP, digabung dengan drbd untuk sinkronisasi data, httpd, nfs, samba dan lain-lain. Nah yang begini akan dibahas pada [Seri HA 3] Sentuhan Terakhir

Jul 292009
 

Apa itu DRBD? Dan apa pula hubungannya dengan HA? Coba jalan-jalan ke sini dulu.

Pada dasarnya DRBD adalah software untuk sinkronisasi data tetapi pada level block device, yaitu level dibawah filesystem. Jadi membuat filesystem-pun akan disinkronkan. Sinkronisasi pada level block device ini diperlukan (tetapi tidak harus) agar HA bisa lebih mulus pergantian komputernya.

OK, langsung ke hardware dan konfigurasinya yang diperlukan untuk drbd. Pertama-tama tentu partisi yang akan disinkronkan, berikut hasil perintah ‘fdisk -l’ dari kedua komputer:

[root@hb1 ~]# fdisk -l
....
   Device Boot      Start         End      Blocks   Id  System
/dev/hda1   *           1        1305    10482381   83  Linux
/dev/hda2            1306        1436     1052257+  82  Linux swap / Solaris
/dev/hda3            1437        2564     9060660   83  Linux
[root@hb2 ~]# fdisk -l
....
   Device Boot      Start         End      Blocks   Id  System
/dev/hda1   *           1        1305    10482381   83  Linux
/dev/hda2            1306        1370      522112+  82  Linux swap / Solaris
/dev/hda3            1371        2498     9060660   83  Linux

Perhatikan, walau besar kedua hardisk berbeda, besar partisi (hda3) yang akan dipakai harus sama persis (1127 blok).

Selanjutnya saya menggunakan 2 kartu jaringan di masing-masing komputer. Berikut hasil ‘ifconfig’ dari kedua komputer:

[root@hb1 ~]# ifconfig
eth0      Link encap:Ethernet  HWaddr xx:xx:xx:xx:xx:xx
          inet addr:192.168.0.11  Bcast:192.168.0.255  Mask:255.255.255.0
          ....

eth1      Link encap:Ethernet  HWaddr xx:xx:xx:xx:xx:xx
          inet addr:10.0.0.11  Bcast:10.0.0.255  Mask:255.255.255.0
          ....
[root@hb2 ~]# ifconfig
eth0      Link encap:Ethernet  HWaddr xx:xx:xx:xx:xx:xx
          inet addr:192.168.0.12  Bcast:192.168.0.255  Mask:255.255.255.0
          ....

eth1      Link encap:Ethernet  HWaddr xx:xx:xx:xx:xx:xx
          inet addr:10.0.0.12  Bcast:10.0.0.255  Mask:255.255.255.0
          ....

eth0 akan terhubung ke jaringan lokal dan eth1 akan saling terhubung dengan kabel kros, dengan kata lain kedua komputer punya jalur pribadi lewat eth1. Kenapa hal ini perlu dilakukan? Tipe sinkronisasi yang dipilih memerlukan bandwidth yang cukup besar, agar tidak mengganggu jaringan lokal maka perlu dipisahkan lewat jalur pribadi ini. Untuk men-tes apakah jalur ini telah berfungsi lakukan ping ke IP dari eth1 komputer lainnya. Continue reading »

Jul 212009
 

Bila kita mempunyai dua atau lebih kartu jaringan, kadang udev atau mekanisme assigning kartu ke dev secara otomatis tidak seperti yang kita inginkan. Seperti contoh yang saya alami dengan centos, onboard kartu jaringan di-assign sebagai eth1 dan kartu jaringan tambahan sebagai eth0, sementara saya ingin onboard yang eth0. Nah, gimana cara ngerubah ini?

Untuk centos 5.3 yang masih menggunakan udev versi lama, maka ada beberapa file yang harus dirubah. Yang pertama adalah file /etc/modprobe.conf. Sebelumnya adalah:

[root@hb1 ~]# cat /etc/modprobe.conf 
alias eth0 3c59x
alias eth1 e100

e100 adalah driver untuk kartu jaringan onboard dan 3c59x adalah driver untuk kartu tambahan. Yang diinginkan onboar jadi eth0, maka kita rubah menjadi:

[root@hb1 ~]# cat /etc/modprobe.conf 
alias eth0 e100
alias eth1 3c59x

Selanjutnya adalah merubah file-file di /etc/sysconfig/network-scripts/ yaitu ifcfg-eth0 dan ifcfg-eth1 (kalau cuma 2 kartu). Pertama kita swap dulu nama kedua file tersebut dan kemudian adaptasikan perubahannya.

[root@hb1 ~]# cat /etc/sysconfig/network-scripts/ifcfg-eth0 
# Intel Corporation 82557/8/9/0/1 Ethernet Pro 100
DEVICE=eth0
BOOTPROTO=none
HWADDR=00:e0:18:25:20:dd
ONBOOT=yes
DHCP_HOSTNAME=hb1
TYPE=Ethernet
IPADDR=192.168.0.11
NETMASK=255.255.255.0
GATEWAY=192.168.0.1
USERCTL=no
IPV6INIT=no
PEERDNS=yes

Yang perlu dirubah paling DEVICE, IPADDR dan GATEWAY.

Untuk Fedora 10 keatas (dan turunannya serta Ubuntu yang baru serta turunannya) yang dilakukan lebih sederhana. TInggal rubah satu file saja yaitu file /etc/udev/rules.d/70-persisten-net.rules. Contoh yang satu kartu:

[hansen@hansen ~]$ cat /etc/udev/rules.d/70-persistent-net.rules

# This file was automatically generated by the /lib/udev/write_net_rules
# program run by the persistent-net-generator.rules rules file.
#
# You can modify it, as long as you keep each rule on a single line.

# Silicon Integrated Systems [SiS] SiS900 PCI Fast Ethernet (rule written by anaconda)
SUBSYSTEM=="net", ACTION=="add", DRIVERS=="?*", ATTR{address}=="00:19:21:6e:72:43", ATTR{type}=="1", KERNEL=="eth*", NAME="eth0"

Tinggal sesuaikan pada bagian ‘NAME=”eth0″‘.

Itu saja.

Update:
Ternyata centos mengambil setingan terakhir (eth1) sebagai default route, sementara saya menginginkan eth0 sebagai default route-nya. Untuk merubahnya, tambahkan nilai GATEWAY dari /etc/sysconfig/network-scripts/ifcfg-eth0 kedalam /etc/sysconfig/network dan hapus GATEWAY dari file /etc/sysconfig/network-scripts/ifcfg-eth0 dan /etc/sysconfig/network-scripts/ifcfg-eth1

Feb 232009
 

Apa hubungannya HA (High Availability) dengan kloning sistem? He.. he.. he.., saya ingin memasang HA ini di mesin virtual dulu, semacam simulasi dulu lah, baru nanti pasang di mesin sebenarnya. Ada beberapa catatan untuk mengkloning sistem di mesin virtual ini, dan ada yang berlaku juga apabila kita ingin menginstal sistem operasi dengan cara menyalin partisi. Mesin virtual yang digunakan adalah VirtualBox keluaran SUN. Ingin mencoba juga dengan qemu, tapi itu nanti dulu lah.

Kita mulai dengan membuat mesin virtual di VirtualBox dan menginstall sistem operasi, yang saya gunakan disini adalah Fedora 10. Setelah lengkap software-software yang terinstall, kita kloning hardisk virtualnya untuk dipakai di mesin virtual kedua. VirtualBox sebenarnya menyediakan alat untuk mengkloning hardisk virtual, perintahnya:

[hansen@hansen ~]$ VBoxManage clonehd HB1.vdi HB2.vdi

Tapi sayangnya hasil kloning dengan cara seperti itu menghasilkan hardisk virtual yang korup dan belum bisa dipakai (tiket 2813) dan berdasarkan tiket diatas bug tersebut sudah diperbaiki untuk rilis selanjutnya. Tetapi untungnya ada solusi yang dituliskan di komentar bug diatas. Kopi saja virtual hardisk yang sudah terinstall lengkap dan rubah uuid dari virtual hardisk hasil kopian dengan perintah:

[hansen@hansen ~]$ VBoxManage internalcommands sethduuid HB2.vdi

Mengapa semua perintah diatas diperlukan? Karena hardisk virtual mempunyai uuid unik untuk tiap filenya dan VirtualBox tidak bisa memakai hardisk virtual yang mempunyai uuid sama. Setelah beres, hardisk virtual kedua siap dipasang untuk mesin virtual kedua. Nyalakan mesin virtual kedua dan ternyata ada beberapa pernak-pernik kecil yang masih perlu dibenahi didalam sistemnya. Pembenahan ini bisa dilakukan juga untuk penginstallan sistem operasi dengan cara menyalin partisi hardisk.

Yang penting untuk dirubah: host key dari ssh server. Sistem hasil kloning akan mempunyai host key ssh server sama persis dengan master-nya. Hal ini harus dirubah demi keamanan dan host key ssh server tidak boleh sama untuk setiap mesin. Caranya ternyata gampang, di generate ulang. Fedora (atau ssh server) akan membuat host key saat pertama kali dijalankan. Nah dimana file-file host key tersebut? File-file tersebut berada di /etc/ssh/

[hansen@hansen ~]$ ll /etc/ssh/
total 160
-rw------- 1 root root 125811 2008-10-17 15:44 moduli
-rw-r--r-- 1 root root   1964 2008-10-17 15:44 ssh_config
-rw------- 1 root root   3711 2008-10-17 15:44 sshd_config
-rw------- 1 root root    668 2008-08-21 14:52 ssh_host_dsa_key
-rw-r--r-- 1 root root    590 2008-08-21 14:52 ssh_host_dsa_key.pub
-rw------- 1 root root    963 2008-08-21 14:52 ssh_host_key
-rw-r--r-- 1 root root    627 2008-08-21 14:52 ssh_host_key.pub
-rw------- 1 root root   1675 2008-08-21 14:52 ssh_host_rsa_key
-rw-r--r-- 1 root root    382 2008-08-21 14:52 ssh_host_rsa_key.pub

File-file yang di generate adalah ssh_host* Jadi hapus saja file-file tersebut agar nanti waktu ssh server dijalankan akan men-generate lagi. Sebelum menghapus matikan dulu service sshd dengan perintah ‘service sshd stop’, setelah itu hapus file ssh_host* tersebut dan jalankan lagi service sshdnya. Viola, akan ada file ssh_host* yang baru dan berbeda dengan ssh_host* dari master.

Yang tidak terlalu penting tapi menggelitik saja: kartu jaringan mesin virtual kedua penomorannya tidak dimulai dari 0 (eth0). Kenapa begitu? Fedora (udev tepatnya) ternyata merekan penomoran kartu jaringan yang dikaitkan dengan MAC address suatu kartu jaringa. Jadi praktis nomor 0 adalah milik kartu jaringan pertama dari master (no seterusnya juga kalau di master ada lebih dari satu kartu jaringan). Kapan dan dimana rekamannya? Saat pertama kali boot dan tertulis di file 70-persisten-net.rules di folder /etc/udev/rules.d Coba kita lihat isi file tersebut:

[hansen@hansen ~]$ cat /etc/udev/rules.d/70-persistent-net.rules

# This file was automatically generated by the /lib/udev/write_net_rules
# program run by the persistent-net-generator.rules rules file.
#
# You can modify it, as long as you keep each rule on a single line.

# Silicon Integrated Systems [SiS] SiS900 PCI Fast Ethernet (rule written by anaconda)
SUBSYSTEM=="net", ACTION=="add", DRIVERS=="?*", ATTR{address}=="00:19:21:6e:72:43", ATTR{type}=="1", KERNEL=="eth*", NAME="eth0"

Dua baris terakhir adalah rekaman tersebut, jadi hapus saja kedua baris terakhir dan boot ulang (ugh.. kenapa harus boot ulang? Mungkin resart service-nya udev bisa juga, belum coba)

Nah dua mesin virtual sudah siap untuk di-setup sebagai HA! Lanjut ke seri 1.

Dec 052006
 

Ingin punya PBX software atau VOIP server sendiri? Mudah, ikuti 7 langkah instalsinya berikut ini. Saya menggunakan Fedora Core 6, yang versi 5 juga bisa. Anda harus sudah terbiasa menggunakan command line (kalau ingin menginstall server software di GNU/Linux tentunya sudah) dan perintah-perintah dibawah semua menggunakan user root.

  1. Download asterisk dan asterisk-addons di ATrpms. Kalau anda sudah mengkonfigurasi repositori ATrpms dalam yum anda tinggal melakukan perintah ‘yum install asterisk asterisk-addons’ saja dan langkah kedua dan ketiga bisa diabaikan.
  2. Intall dulu dependensi yang diperlukan, software-software ini ada di repositori extras-nya Fedora Core:
    # yum install zaptel zaptel-lib libpri
  3. Setelah itu baru install asterisk dan asterisk-addons:
    # cd /tempat-download-asterisk/
    # rpm -Uvh asterisk-1.2.13-30.fc6.at.i386.rpm \
    asterisk-addons-1.2.5-12.fc6.at.i386.rpm
  4. Coba test apakah asterisk bisa berjalan:
    # service asterisk start
    Starting asterisk: [ OK ]
    Kalau keluar [ OK ] berarti asterisk bisa berjalan dengan baik.
  5. By default asterisk akan dijalankan waktu komputer dinyalakan, kalau anda ingin mengubahnya menjadi manual bisa diseting dengan chkconfig:
    # chkconfig asterisk off
  6. Konfigurasi! Untuk lebih detailnya bisa baca ‘Manual Asterisk IP PBX‘ tulisannya Anton Raharja atau ‘Instalasi Minimal Asterisk‘ tulisannya pak Onno.
  7. Setelah melakukan perubahan jangan lupa me-reload asterisk service, kalau tidak puas dengan reload bisa juga restart ;-)
    # service asterisk reload
    atau
    # service asterisk restart

Jadilah PBX software sekaligus VOIP server anda! Selamat menikmati..

Update: dapat ijin dari pak Onno untuk upload dokumennya.

Dec 012006
 

Yup, betul. Kita bisa install Fedora dengan file-file .iso yang kita download. Walaupun anda mempunyai CD/DVD burning dan ingin membakar CD atau DVD, install melalui file .iso yang ada di hardisk tetap menarik karena jauh lebih cepat. Gak sampai setengah jam Fedora baru anda telah siap! Anda cuma punya partisi fat32? Juga bisa.

Yang perlu disiapkan:

  • Boot loader yang dipakai adalah GRUB. Kalau sebelumnya anda sudah mempunyai salah satu distro GNU/Linux biasanya boot loadernya sudah GRUB. Kalau belum, bisa bikin boot disk yang akan menjalankan GRUB terlebih dahulu. Minta tolong teman yang sudah pakai GRUB dan jalankan perintah-perintah ini:
    Masuk ke folder grub
    # cd /boot/grub/
    Siapkan disket, periksa apakah ada file stage1 dan stage2 di folder ini. Lanjutkan..
    # dd if=stage1 of=/dev/fd0 bs=512 count=1
    # dd if=stage2 of=/dev/fd0 bs=512 seek=1
    Dan siaplah disket GRUB-nya.
  • File .iso dari Fedora baik CD iso ataupun DVD iso. Letakkan dalam satu folder dan tulis letaknya. Oh ya, partisi tempat dimana iso itu berada harus diingat juga dan lakukan konversi untuk perintah di GRUB. Misalnya ada dipartisi /dev/hda4, konversinya (hd0,3). Kalau di /dev/hdb6 konversinya (hd1,5). Untuk di windows kalau di drive C biasanya dikonversi ke (hd0,0), tapi kalau di drive D biasanya dikonversi ke (hd0,4).
  • File-file yang diperlukan untuk booting ke Fedora installer, file-file ini bisa diambil dari CD1 file iso atau dari DVD, satu folder yang bernama isolinux. Bisa juga di-download dari mirror-nya Fedora.

Yak, itu saja. Ada lagi dink, keingintahuan dan backup data-data yang ada di hardisk anda tentunya. Kalau semua sudah, ayo kita mulai… Continue reading »

%d bloggers like this: