<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>cruel world</title>
	<atom:link href="http://hansen.alfansa.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hansen.alfansa.org</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 28 May 2010 06:41:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Memonitor pemakaian bandwidth</title>
		<link>http://hansen.alfansa.org/2010/05/memonitor-pemakaian-bandwidth/</link>
		<comments>http://hansen.alfansa.org/2010/05/memonitor-pemakaian-bandwidth/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 May 2010 06:39:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hansen</dc:creator>
				<category><![CDATA[free software world]]></category>
		<category><![CDATA[networking]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<category><![CDATA[tutorial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hansen.alfansa.org/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Ketika menggunakan koneksi internet yang dibatasi besarnya pemakaian per waktu tentu membuat kita suka bertanya-tanya berapa besar pemakaian yang sudah digunakan? Apalagi kalau kita menggunakan koneksi dengan GSM atau CDMA yang terkenal mahal per KB-nya, bisa tekor kalau sering kelebihan kuota Setelah sibuk berkeliling dengan om Google akhirnya mendapat informasi yang tepat dari situsnya forum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika menggunakan koneksi internet yang dibatasi besarnya pemakaian per waktu tentu membuat kita suka bertanya-tanya berapa besar pemakaian yang sudah digunakan? Apalagi kalau kita menggunakan koneksi dengan GSM atau CDMA yang terkenal mahal per KB-nya, bisa tekor kalau sering kelebihan kuota <img src='http://hansen.alfansa.org/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Setelah sibuk berkeliling dengan om Google akhirnya mendapat informasi yang tepat dari situsnya <a title="Traffic monitor for NetworkManager" href="http://forums.opensuse.org/get-help-here/applications/416641-traffic-monitor-networkmanager.html" target="_blank">forum opensuse</a>. Dari situ saya coba adaptasi dengan kebutuhan saya. Berikut langkah-langkahnya.</p>
<ul>
<li>Tentu kita memerlukan NetworkManager untuk koneksinya, versi 0.8.x adalah NM yang paling OK untuk koneksi menggunakan GSM atau CDMA. Untuk mengoleksi data pemakaian digunakan vnstat, aplikasi command line kecil yang sangat bermanfaat <img src='http://hansen.alfansa.org/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </li>
<li>Kita mulai konfigurasi, yang pertama kita perlu edit adalah file /etc/cron.d/vnstat, file ini digunakan untuk mengatur seberapa sering kita akan mengupdate data koneksi. Punya saya seperti ini:
<pre>MAILTO=root
# to enable interface monitoring via vnstat remove comment on next line
*/2 * * * *  vnstat /usr/sbin/vnstat.cron</pre>
<p>&#8220;*/2&#8243; berarti kita akan mengupdate data setiap 2 menit. vnstat kemudian memakai /usr/sbin/vnstat.cron, yang isinya</p>
<pre>#!/bin/bash
# this script (/usr/sbin/vnstat.cron) reads /etc/sysconfig/vnstat
# to start /usr/bin/vnstat.
# example for /etc/sysconfig/vnstat:
# VNSTAT_OPTIONS="-u -i eth0"
# see also: vnstat(1)

VNSTAT_CONF=/etc/sysconfig/vnstat

if [ ! -f  ]; then
 exit 0
fi

. $VNSTAT_CONF

/usr/bin/vnstat $VNSTAT_OPTIONS</pre>
<p>Hmm&#8230;, file ini membaca /etc/sysconfig/vnstat, yg isinya</p>
<pre># see also: vnstat(1)
#
# starting with vnstat-1.6 vnstat can also be
# configured via /etc/vnstat.conf
#
# the following sets vnstat up to monitor ppp0
VNSTAT_OPTIONS="-u -i ppp0"</pre>
<p>Perhatikan &#8220;ppp0&#8243;, itu interface yang dibuat NetwokManager ketika koneksi internet terhubung. Sesuaikan dengan interface dari distro anda. Oh ya, file-file setingan tersebut berdasarkan konfigurasi di Fedora, untuk distro lain bisa jadi berbeda, sesuaikan saja <img src='http://hansen.alfansa.org/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </li>
<li>Kemudian bagaimana menghubungkannya dengan NetworkManager? Pada prinsipnya kita hanya ingin menghitung manakali koneksi terjadi dan tidak perlu menghitung manakala tidak ada koneksi. Tetapi vnstat dijalankan dengan cron job dan data akan tidak akurat kalau koneksi tidak ada (ppp0 tidak ada). Ternyata vnstat ada option &#8211;disable dan &#8211;enable untuk menghindari penghitungan pada interface yang tidak ada. Nah, kita buat file script untuk menjalan vnstat dengan option tersebut dan taruh di /etc/NetworkManager/dispatcher.d/. File-file yang ada di folder tersebut akan dijalan ketika NM membuat atau memutus koneksi. File script saya adalah:
<pre>#!/bin/sh

case "$2" in
 up)
 /usr/bin/vnstat --enable -i ppp0
 ;;
 down)
 /usr/bin/vnstat -r --disable -i ppp0
 ;;
 *)
 exit 0
 ;;
esac</pre>
<p>Ketika &#8220;up&#8221; (koneksi terhubung) vnstat dipanggil dengan option &#8211;enable yang akan membuat perhitungan untuk ppp0 dibuka. Ketika &#8220;down&#8221; vnstat dipanggil dengan option &#8211;disable yang membuat perhitungan untuk ppp0 ditutup/diabaikan.</li>
</ul>
<p>Bereslah sudah dan ketika berinternet ria dengan GSM/CDMA kita bisa cek jumlah pemakain kita dengan mengetikkan &#8220;vnstat&#8221; dari terminal. Option untuk menampilkan data-nya banyak, silahkan baca dari &#8220;man vnstat&#8221; <img src='http://hansen.alfansa.org/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hansen.alfansa.org/2010/05/memonitor-pemakaian-bandwidth/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Seri HA 3] Sentuhan Terakhir</title>
		<link>http://hansen.alfansa.org/2009/08/seri-ha-3-sentuhan-terakhir/</link>
		<comments>http://hansen.alfansa.org/2009/08/seri-ha-3-sentuhan-terakhir/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Aug 2009 09:09:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hansen</dc:creator>
				<category><![CDATA[IT world]]></category>
		<category><![CDATA[free software world]]></category>
		<category><![CDATA[backup]]></category>
		<category><![CDATA[HA]]></category>
		<category><![CDATA[server]]></category>
		<category><![CDATA[tutorial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hansen.alfansa.org/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[DRBD sudah, Heartbeat juga sudah, sekarang tinggal menggabungkan keduanya dan memilih layanan apa saja yang akan tersedia di HA kita. Layanan yang akan kita pasang sebagai HA adalah vitual IP, dimana IP ini yang akan dituju oleh kilen, file server dengan nfs dan samba, web server httpd dengan php-nya serta database server MySQL. Sebelum mengintegrasikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>DRBD sudah, Heartbeat juga sudah, sekarang tinggal menggabungkan keduanya dan memilih layanan apa saja yang akan tersedia di HA kita. Layanan yang akan kita pasang sebagai HA adalah vitual IP, dimana IP ini yang akan dituju oleh kilen, file server dengan nfs dan samba, web server httpd dengan php-nya serta database server MySQL. Sebelum mengintegrasikan layanan tersebut dengan heartbeat ada baiknya dicobakan dulu tanpa heartbeat dan sudah jalan dengan benar.</p>
<p>Agar semua perubahan data dari layanan tersebut dapat tersinkronisasi dengan baik maka ada beberapa lokasi data layanan diatas akan ditempatkan di folder yang tersinkronisasi oleh drbd, dalam hal ini di folder /drdisk. Untuk file server kita tempatkan di /drdisk/shares. Halaman web kita tempatkan di /drdisk/html dan file untuk php session kita tempatkan di /drdisk/php/session, sementara file upload lewat php tempat penyimpanan sementaranya ada di /drdisk/tmp. MySQL database di folder /drdisk/mysql.</p>
<p>Pada tutorial sebelumnya kita matikan dulu layanan drbd, nah sekarang kita hidupkan di kedua komputer dan kerjakan pembuatan folder diatas pada komputer yang dijadikan primary.</p>
<pre>[root@hb1 ~]# drbdadm primary r0
[root@hb1 ~]# mount /dev/drbd1 /drdisk/
[root@hb1 ~]# mkdir -p /drdisk/shares /drdisk/html /drdisk/mysql /drdisk/tmp /drdisk/php/session
[root@hb1 ~]# chmod ugo=rwXt /drdisk/tmp/ /drdisk/shares/
[root@hb1 ~]# chmod 770 /drdisk/php/session/
[root@hb1 ~]# chgrp apache /drdisk/php/session/</pre>
<p>/drdisk/tmp dan /drdisk/shares permission-nya kita jadi seperti /tmp. /drdisk/php/session ber-permisson 700 dan group owner adalah apache. Setelah itu kita konfigurasi masing-masing layanan agar menggunakan folder yang telah kita sediakan tersebut. File-file konfigurasi ini harus sama di kedua komputer.</p>
<p>Untuk nfs file konfigurasinya adalah file /etc/exports dan isinya cuma satu baris saja:</p>
<pre>/drdisk/shares            *(rw,squash_uids=0-99,sync)</pre>
<p>Untuk keterangan variabelnya coba saja cari tutorial tentang nfs di internet <img src='http://hansen.alfansa.org/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Untuk samba, tambahkan baris berikut pada file /etc/samba/smb.conf:</p>
<pre>[shares]
        comment = Shares Stuff
        path = /drdisk/shares
        public = yes
        writable = yes
        printable = no</pre>
<p>File-file yang ada di /etc/samba juga perlu diduplikasi di komputer satu lagi.</p>
<p>Untuk apache (httpd) file yang perlu dirubah adalah /etc/httpd/conf/httpd.conf. Cari &#8216;DocumentRoot&#8217; dan isikan dengan /drdisk/html. Kemudian cari &#8216;&lt;Directory &#8220;/var/www/html&#8221;&gt;&#8217; dan ganti menjadi &#8216;&lt;Directory &#8220;/drdisk/html&#8221;&gt;&#8217;. Untuk konfigurasi php, silahkan rubah file /etc/php.ini pada bagian sbb:</p>
<pre>....
; Temporary directory for HTTP uploaded files (will use system default if not
; specified).
upload_tmp_dir = /drdisk/tmp
....
session.save_path = "/drdisk/php/session"
....</pre>
<p>Pada dasarnya itu saja yang dirubah, kalau ternyata masih ada yang perlu dirubah karena terkait dengan modul lain silahkan baca-baca di www.php.net</p>
<p>Untuk MySQL file konfigurasi yang dirubah adalah /etc/my.cnf:</p>
<pre>[mysqld]
datadir=/drdisk/mysql
socket=/var/lib/mysql/mysql.sock
user=mysql
# Default to using old password format for compatibility with mysql 3.x
# clients (those using the mysqlclient10 compatibility package).
old_passwords=1

[mysqld_safe]
log-error=/var/log/mysqld.log
pid-file=/var/run/mysqld/mysqld.pid</pre>
<p>Nah, kalau semua layanan diatas sudah jalan dengan baik tanpa terintegrasi dengan heartbeat, maka kini saatnya mengintegrasikan dengan heartbeat. Layanan-layanan diatas berposisi off pada waktu komputer dinyalakan (termasuk drbd), heartbeat yang akan menyalakannya.</p>
<p>File konfigurasi untuk layanan diatas kita tuliskan (misal) di hb-resources.xml dan hb-constarint.xml. hb-resources.xml untuk mengatur setingan layanan dan hb-constaint.xml untuk mengatur batasan/urutan layanan dinyalakan.<span id="more-24"></span></p>
<p>hb-resources.xml:</p>
<pre>&lt;resources&gt;
  &lt;master_slave id="ms-drbd1"&gt;
    &lt;meta_attributes id="ma-ms-drbd1"&gt;
      &lt;attributes&gt;
        &lt;nvpair id="ma-ms-drbd1-1" name="clone_max" value="2"/&gt;
        &lt;nvpair id="ma-ms-drbd1-2" name="clone_node_max" value="1"/&gt;
        &lt;nvpair id="ma-ms-drbd1-3" name="master_max" value="1"/&gt;
        &lt;nvpair id="ma-ms-drbd1-4" name="master_node_max" value="1"/&gt;
        &lt;nvpair id="ma-ms-drbd1-5" name="notify" value="yes"/&gt;
        &lt;nvpair id="ma-ms-drbd1-6" name="globally_unique" value="false"/&gt;
        &lt;nvpair id="ma-ms-drbd1-7" name="target_role" value="stopped"/&gt;
      &lt;/attributes&gt;
    &lt;/meta_attributes&gt;
    &lt;primitive id="drbd1" class="ocf" provider="heartbeat" type="drbd"&gt;
      &lt;instance_attributes id="ia-drbd1"&gt;
        &lt;attributes&gt;
          &lt;nvpair id="ia-drbd1-1" name="drbd_resource" value="r0"/&gt;
        &lt;/attributes&gt;
      &lt;/instance_attributes&gt;
      &lt;operations&gt;
        &lt;op id="op-drbd1-1" name="monitor" interval="59s" timeout="10s" role="Master"/&gt;
        &lt;op id="op-drbd1-2" name="monitor" interval="60s" timeout="10s" role="Slave"/&gt;
      &lt;/operations&gt;
    &lt;/primitive&gt;
  &lt;/master_slave&gt;
  &lt;group id="group0"&gt;
    &lt;meta_attributes id="ma-group0"&gt;
      &lt;attributes&gt;
        &lt;nvpair id="ma-group0-1" name="target_role" value="started"/&gt;
      &lt;/attributes&gt;
    &lt;/meta_attributes&gt;
    &lt;primitive class="ocf" provider="heartbeat" type="Filesystem" id="fs0"&gt;
      &lt;instance_attributes id="ia-fs0"&gt;
        &lt;attributes&gt;
          &lt;nvpair id="ia-fs0-1" name="fstype" value="ext3"/&gt;
          &lt;nvpair id="ia-fs0-2" name="directory" value="/drdisk"/&gt;
          &lt;nvpair id="ia-fs0-3" name="device" value="/dev/drbd1"/&gt;
        &lt;/attributes&gt;
      &lt;/instance_attributes&gt;
    &lt;/primitive&gt;
    &lt;primitive id="vip0" class="ocf" type="IPaddr2" provider="heartbeat"&gt;
      &lt;instance_attributes id="ia-vip0"&gt;
        &lt;attributes&gt;
          &lt;nvpair id="ia-vip0-1" name="ip" value="192.168.0.10"/&gt;
          &lt;nvpair id="ia-vip0-2" name="broadcast" value="192.168.0.255"/&gt;
          &lt;nvpair id="ia-vip0-3" name="nic" value="eth0"/&gt;
          &lt;nvpair id="ia-vip0-4" name="cidr_netmask" value="32"/&gt;
        &lt;/attributes&gt;
      &lt;/instance_attributes&gt;
      &lt;operations&gt;
        &lt;op id="op-vip0-1" name="monitor" interval="21s" timeout="5s"/&gt;
      &lt;/operations&gt;
    &lt;/primitive&gt;
    &lt;primitive class="lsb" id="nfs0" provider="heartbeat" type="nfs"/&gt;
    &lt;primitive class="lsb" id="smb0" provider="heartbeat" type="smb"/&gt;
    &lt;primitive class="lsb" id="httpd0" provider="heartbeat" type="httpd"/&gt;
    &lt;primitive class="lsb" id="mysql0" provider="heartbeat" type="mysqld"/&gt;
  &lt;/group&gt;
&lt;/resources&gt;</pre>
<p>Setingan untuk drbd ada di dalam tag &#8216;master_slave&#8217;, yang perlu diperhatikan pada &#8216;name=&#8221;drbd_resource&#8221;&#8216; value-nya harus sama dengan nama resource pada setingan drbd. Untuk layanan lain tergabung dalam tag &#8220;group&#8221;.</p>
<p>Selanjutnya kita lihat tag &#8216;primitve&#8217; dengan tipe &#8220;Filesystem&#8221;, ini adalah layanan untuk me-mount filesystem drdb. Perhatikan atributnya dan sesuaikan bila perlu. Tag &#8216;primitive&#8217; dengan tipe &#8220;IPaddr2&#8243; adalah layanan IP virtual, yaitu IP yang kita tuju untuk mengakses server kita. IP ini berbeda dengan IP kedua komputer yang dijadikan server. Dan sesuaikan bila perlu data-data yang ada pada bagian atribut.</p>
<p>Setelah itu perhatikan tipe-tipe &#8216;nfs&#8217;, &#8216;smb&#8217;, &#8216;httpd&#8217; dan &#8216;mysqld&#8217;. Ini sebetulnya nama script yang kita gunakan waktu menjalankan layanan, kalau di centos dan fedora based itu adalah variabel yang dipakai setelah perintah service, untuk debian based bisa dilihat di folder /etc/init.d.</p>
<p>Kalau semua sudah beres tinggal mengintegrasikan kedalam layanan heartbeat yang sedang jalan dengan perintah:</p>
<pre>cibadmin -C -o resources -x hb-resources.xml</pre>
<p>Ganti &#8216;-C&#8217; dengan &#8216;-R&#8217; kalau setelah itu perlu merubah file hb-resources.xml dan ingin mengupdate setingan.</p>
<p>hb-constarint.xml:</p>
<pre>&lt;constraints&gt;
  &lt;rsc_order id="drbd1_before_group0" from="group0" action="start" to="ms-drbd1" to_action="promote"/&gt;
  &lt;rsc_colocation id="group0_on_drbd1" to="ms-drbd1" to_role="master" from="group0" score="infinity"/&gt;
&lt;/constraints&gt;</pre>
<p>Setingan ini untuk mengatur agar layanan dalam group0 dijalankan apabila drbd-nya sudah jalan dengan baik. Hal ini perlu dibatasi karena kalau drbd tidak jalan maka semua layanan di atas akan bermasalah waktu dijalankan. Integrasikan juga kedalam heartbeat yang sudah jalan dengan perintah</p>
<pre>cibadmin -C -o constraints -x hb-constarint.xml</pre>
<p>Semua sudah beres, tinggal mencobanya. Oh ya untuk memantau heartbeat kita gunakan aplikasi hb_gui, biasanya disediakan oleh paket heartbeat-gui. Misalkan kita akan mencoba file sharing lewat nfs, kita salin file lagu, terus mainkan lewat komputer klien dan matikan komputer heartbeat yang sedang jadi master, dari hb_gui biasanya terlihat komputer mana yang sedang jadi master. Mestinya waktu peralihan heartbeat master dari satu komputer ke komputer lain akan ada jeda saat mendengarkn musik, tetapi musik tetap jalan terus. Kalau itu berhasil maka setingan HA kita bisa dibilang sukses! Fuih&#8230; <img src='http://hansen.alfansa.org/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hansen.alfansa.org/2009/08/seri-ha-3-sentuhan-terakhir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Seri HA 2] Pasang Heartbeat</title>
		<link>http://hansen.alfansa.org/2009/07/seri-ha-2-pasang-heartbeat/</link>
		<comments>http://hansen.alfansa.org/2009/07/seri-ha-2-pasang-heartbeat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jul 2009 10:29:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hansen</dc:creator>
				<category><![CDATA[IT world]]></category>
		<category><![CDATA[free software world]]></category>
		<category><![CDATA[backup]]></category>
		<category><![CDATA[HA]]></category>
		<category><![CDATA[server]]></category>
		<category><![CDATA[tutorial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hansen.alfansa.org/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Nah ini aplikasi yang menjadi tulang punggung HA, Heartbeat dari Linux HA. Silahkan baca-baca link tersebut untuk mengetahui lebih jauh apa itu heartbeat. Untuk mengaktifkan heartbeat ini ternyata cukup mudah. Rubah file /etc/ha.d/ha.cf, bikin aja kalau belum ada, dengan isi sebagai berikut: use_logd on udpport 694 keepalive 1 # 1 second deadtime 10 initdead 80 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nah ini aplikasi yang menjadi tulang punggung HA, Heartbeat dari <a title="The High Availability Linux Project" href="http://www.linux-ha.org/">Linux HA</a>. Silahkan baca-baca link tersebut untuk mengetahui lebih jauh apa itu heartbeat.</p>
<p>Untuk mengaktifkan heartbeat ini ternyata cukup mudah. Rubah file <code>/etc/ha.d/ha.cf</code>, bikin aja kalau belum ada, dengan isi sebagai berikut:</p>
<pre>use_logd on
udpport 694
keepalive 1 # 1 second
deadtime 10
initdead 80
bcast eth0
node hb1 hb2
crm yes
auto_failback yes</pre>
<p>isi dari <code>node</code> disesuaikan dengan nama-nama komputernya. Setelah itu membuat file <code>/etc/ha.d/authkeys</code> untuk autentikasinya dengan menggunakan script ini:</p>
<pre>cat &lt;&lt;-!AUTH &gt;/etc/ha.d/authkeys
# Automatically generated authkeys file
auth 1
1 sha1 `dd if=/dev/urandom count=4 2&gt;/dev/null | openssl dgst -sha1` !AUTH</pre>
<p>Karena file <code>/etc/ha.d/authkeys</code> sensitif, maka rubah permission-nya menjadi 600 (<code>-rw------</code>). Yak segitu saja, heartbeat siap dijalankan. Di fedora <em>based</em> tinggal jalankan &#8216;<code>service heartbeat start</code>&#8216; dan jangan lupa service heartbeat di on-kan waktu komputer dihidupkan.</p>
<p>Tapi dengan konfigurasi seperti itu saja heartbeat tidak banyak berguna, harus ada service-service yang ditangani heartbeat yang menjadikannya fungsional sebagai HA, misal visual IP, digabung dengan drbd untuk sinkronisasi data, httpd, nfs, samba dan lain-lain. Nah yang begini akan dibahas pada <a href="http://hansen.alfansa.org/2009/08/seri-ha-3-sentuhan-terakhir/">[Seri HA 3] Sentuhan Terakhir</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hansen.alfansa.org/2009/07/seri-ha-2-pasang-heartbeat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Seri HA 1] Pasang DRBD</title>
		<link>http://hansen.alfansa.org/2009/07/seri-ha-1-pasang-drbd/</link>
		<comments>http://hansen.alfansa.org/2009/07/seri-ha-1-pasang-drbd/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Jul 2009 04:49:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hansen</dc:creator>
				<category><![CDATA[IT world]]></category>
		<category><![CDATA[free software world]]></category>
		<category><![CDATA[backup]]></category>
		<category><![CDATA[HA]]></category>
		<category><![CDATA[server]]></category>
		<category><![CDATA[tutorial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hansen.alfansa.org/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Apa itu DRBD? Dan apa pula hubungannya dengan HA? Coba jalan-jalan ke sini dulu. Pada dasarnya DRBD adalah software untuk sinkronisasi data tetapi pada level block device, yaitu level dibawah filesystem. Jadi membuat filesystem-pun akan disinkronkan. Sinkronisasi pada level block device ini diperlukan (tetapi tidak harus) agar HA bisa lebih mulus pergantian komputernya. OK, langsung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa itu DRBD? Dan apa pula hubungannya dengan HA? Coba jalan-jalan <a title="What is DRBD" href="http://www.drbd.org/home/what-is-drbd/">ke sini</a> dulu.</p>
<p>Pada dasarnya DRBD adalah software untuk sinkronisasi data tetapi pada level <em>block device</em>, yaitu level dibawah filesystem. Jadi membuat <em>filesystem</em>-pun akan disinkronkan. Sinkronisasi pada <em>level block</em> device ini diperlukan (tetapi tidak harus) agar HA bisa lebih mulus pergantian komputernya.</p>
<p>OK, langsung ke <em>hardware</em> dan konfigurasinya yang diperlukan untuk drbd. Pertama-tama tentu partisi yang akan disinkronkan, berikut hasil perintah &#8216;fdisk -l&#8217; dari kedua komputer:</p>
<pre>[root@hb1 ~]# fdisk -l
....
   Device Boot      Start         End      Blocks   Id  System
/dev/hda1   *           1        1305    10482381   83  Linux
/dev/hda2            1306        1436     1052257+  82  Linux swap / Solaris
/dev/hda3            1437        2564     9060660   83  Linux</pre>
<pre>[root@hb2 ~]# fdisk -l
....
   Device Boot      Start         End      Blocks   Id  System
/dev/hda1   *           1        1305    10482381   83  Linux
/dev/hda2            1306        1370      522112+  82  Linux swap / Solaris
/dev/hda3            1371        2498     9060660   83  Linux</pre>
<p>Perhatikan, walau besar kedua hardisk berbeda, besar partisi (hda3) yang akan dipakai harus sama persis (1127 blok).</p>
<p>Selanjutnya saya menggunakan 2 kartu jaringan di masing-masing komputer. Berikut hasil &#8216;ifconfig&#8217; dari kedua komputer:</p>
<pre>[root@hb1 ~]# ifconfig
eth0      Link encap:Ethernet  HWaddr xx:xx:xx:xx:xx:xx
          inet addr:192.168.0.11  Bcast:192.168.0.255  Mask:255.255.255.0
          ....

eth1      Link encap:Ethernet  HWaddr xx:xx:xx:xx:xx:xx
          inet addr:10.0.0.11  Bcast:10.0.0.255  Mask:255.255.255.0
          ....</pre>
<pre>[root@hb2 ~]# ifconfig
eth0      Link encap:Ethernet  HWaddr xx:xx:xx:xx:xx:xx
          inet addr:192.168.0.12  Bcast:192.168.0.255  Mask:255.255.255.0
          ....

eth1      Link encap:Ethernet  HWaddr xx:xx:xx:xx:xx:xx
          inet addr:10.0.0.12  Bcast:10.0.0.255  Mask:255.255.255.0
          ....</pre>
<p>eth0 akan terhubung ke jaringan lokal dan eth1 akan saling terhubung dengan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Ethernet_crossover_cable">kabel kros</a>, dengan kata lain kedua komputer punya jalur pribadi lewat eth1. Kenapa hal ini perlu dilakukan? Tipe sinkronisasi yang dipilih memerlukan <em>bandwidth</em> yang cukup besar, agar tidak mengganggu jaringan lokal maka perlu dipisahkan lewat jalur pribadi ini. Untuk men-tes apakah jalur ini telah berfungsi lakukan ping ke IP dari eth1 komputer lainnya.<span id="more-20"></span></p>
<p><em>Hardware</em> dan setingan yang diperlukan sudah, sekarang ke file konfigurasi. File yang dipakai adalah /etc/drbd.conf. Berikut isi drbd.conf dari <strong>kedua</strong> komputer:</p>
<pre>global {
  usage-count yes;
}
common {
  protocol C;
}
resource r0 {
  device    /dev/drbd1;
  meta-disk internal;
  net {
    after-sb-0pri discard-younger-primary;
    after-sb-1pri discard-secondary;
    after-sb-2pri disconnect;
  }
  on hb1 {
    address   10.0.0.11:7789;
    disk      /dev/hda3;
  }
  on hb2 {
    address   10.0.0.12:7789;
    disk      /dev/hda3;
  }
}</pre>
<p>Penjelasan singkatnya sebagai berikut:</p>
<p><code>protocol C;</code> Ini adalah protokol yang digunakan drbd untuk sinkronisasi, C adalah <em><a href="http://www.drbd.org/home/mirroring/">Synchronous mirroring</a></em>, oleh karena itu kita memerlukan jalur pribadi untuk tipe ini.<br />
<code>resource r0</code> adalah nama <em>resource</em> yang akan selalu digunakan sebagai parameter ketika memanggil fungsi-fungsi drbd.<br />
<code>device    /dev/drbd1;</code> <em>Device</em> ini yang akan kita gunakan ketika melakukan mount<br />
Opsi didalam <code>net{}</code> digunakan untuk menangani masalah <em>split brain</em>.</p>
<pre>  on hb1 {
    address   10.0.0.11:7789;
    disk      /dev/hda3;
  }</pre>
<p>Ini adalah konfigurasi untuk komputernya, masing-masing disesuaikan dengan setingan komputer.<br />
<code>address   10.0.0.11:7789;</code> adalah IP jalur pribadi dengan port standar drbd.<br />
<code>disk      /dev/hda3;</code> adalah partisi yang digunakan oleh drbd.</p>
<p>Setelah selesai dengan file konfigurasi tersebut, kita akan melakukan langkah pendahuluan untuk menghidupkan drbd ini. Perintah-perintah berikut dilakukan di <strong>kedua</strong> komputer.<br />
Membuat <em>device metadata</em>:</p>
<pre>[root@hb1 ~]# drbdadm create-md r0
....
Writing meta data...
initialising activity log
NOT initialized bitmap
New drbd meta data block sucessfully created.
success</pre>
<p>Memasang <em>backup device</em> dan menyetel parameter sinkronisasi:</p>
<pre>[root@hb1 ~]# drbdadm attach r0
[root@hb1 ~]# drbdadm syncer r0</pre>
<p>Untuk centos, sebelum memasang <em>backup device</em> perlu &#8216;modprobe drbd&#8217; dulu. Setelah proses inisialisasi selesai maka <em>loading</em> kernel <em>driver</em> akan dilakukan oleh <em>service</em> drbd.<br />
Selanjutnya adalah mengkoneksi kedua komputer:</p>
<pre>[root@hb1 ~]# drbdadm connect r0</pre>
<p>Untuk melihat status setelah prosedur diatas silahkan lihat isi file /proc/drbd:</p>
<pre>[root@hb1 ~]# cat /proc/drbd
version: 8.2.6 (api:88/proto:86-88)
GIT-hash: 3e69822d3bb4920a8c1bfdf7d647169eba7d2eb4 build by buildsvn@c5-i386-build, 2008-10-03 11:42:32

 1: cs:Connected st:Secondary/Secondary ds:Inconsistent/Inconsistent C r---
    ns:0 nr:0 dw:0 dr:0 al:0 bm:0 lo:0 pe:0 ua:0 ap:0 oos:9060344</pre>
<p>&#8220;cs:Connected&#8221; berarti kedua drbd sudah terkoneksi, &#8220;st:Secondary/Secondary&#8221; berarti status dari keduanya adalah secendary semua, nantinya harus ada yang jadi primary, yang didepan adalah drbd dari komputer tempat melihat status ini, &#8220;ds:Inconsistent/Inconsistent&#8221; berarti disk status inconsistent, pada saat ini adalah normal, nantinya kita perlu sinkronkan manual dulu.</p>
<p>Proses selanjutnya adalah mengsinkronkan pertama kali. Kalau kita memulai dari partisi kosong proses ini bisa dimulai dari komputer mana saja, tetapi satu komputer partisi yang dipakai sudah berisi data maka harus dimulai dari komputer tersebut, kalau tidak data akan hilang!</p>
<pre>[root@hb1 ~]# drbdadm -- --overwrite-data-of-peer primary r0</pre>
<p>Untuk melihat prosesnya bisa lewat /proc/drbd lagi:</p>
<pre>[root@hb1 ~]# cat /proc/drbd
version: 8.2.6 (api:88/proto:86-88)
GIT-hash: 3e69822d3bb4920a8c1bfdf7d647169eba7d2eb4 build by buildsvn@c5-i386-build, 2008-10-03 11:42:32

 1: cs:SyncSource st:Primary/Secondary ds:UpToDate/Inconsistent C r---
    ns:6016 nr:0 dw:0 dr:6016 al:0 bm:0 lo:0 pe:0 ua:0 ap:0 oos:9054328
	[&gt;....................] sync'ed:  0.1% (8842/8847)M
	finish: 7:11:09 speed: 348 (332) K/sec</pre>
<p>Yak, sedang berjalan, tunggu sampai selesai, 7 jam? itu baru 8847 MB <img src='http://hansen.alfansa.org/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' />  Perhatikan bahwa status (st) berubah menjadi Primary/Secondary dan disk state (ds) menjadi UpToDate/Inconsistent.</p>
<p>Setelah sinkronisasi pertama selesai mari kita coba. Partisi yang dipakai drbd belum di format, maka perlu kita format dulu sebelum dipakai. Perhatikan bahwa kita hanya perlu memformat pada komputer yang status drbd-nya primary, yang secondary akan tersinkronisasi (bahkan pada level pembuatan file system <img src='http://hansen.alfansa.org/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' />  ). Perhatikan juga <em>device</em> yang kita rujuk bukan lagi <code>/dev/hda3</code> tetapi <code>/dev/drbd1</code> seperti yang ada dalam file konfigurasi.</p>
<pre>[root@hb1 ~]# mkfs.ext3 /dev/drbd1
mke2fs 1.39 (29-May-2006)
....
Writing inode tables: done
Creating journal (32768 blocks): done
Writing superblocks and filesystem accounting information: done
....</pre>
<p>Setelah itu kita buat folder (<code>/drdisk</code>) yang akan menjadi tujuan mount di kedua komputer dan mari kita lakukan tes sederhana.<br />
Di komputer yang jadi <em>primary</em>:</p>
<ul>
<li><code>mount /dev/drbd1</code> ke <code>/drdisk</code></li>
<li>buat file</li>
<li><code>umount</code> kembali</li>
<li>turunkan role-nya jadi <em>secondary</em></li>
</ul>
<pre>[root@hb1 ~]# mount /dev/drbd1 /drdisk/
[root@hb1 ~]# echo "just test drbd" &gt;/drdisk/testdrbd
[root@hb1 ~]# umount /drdisk
[root@hb1 ~]# drbdadm secondary r0</pre>
<p>Setelah itu kita lakukan langkah berikut di komputer yang awalnya <em>secondary</em>:</p>
<ul>
<li>Naikkan role-nya sebagai <em>primary</em></li>
<li><code>mount /dev/drbd1</code> ke <code>/drdisk</code></li>
<li>coba lihat isi <code>/drdisk/testdrbd</code> yang pasti sama dengan komputer satu lagi</li>
</ul>
<pre>[root@hb2 ~]# drbdadm primary r0
[root@hb2 ~]# mount /dev/drbd1 /drdisk/
[root@hb2 ~]# cat /drdisk/testdrbd
just test drbd</pre>
<p>Kalau sudah OK, umount dan turunkan role-nya menjadi <em>secondary</em> lagi kalau mau digunakan oleh heartbeat. Selesai memasang DRBD, fuih&#8230; <img src='http://hansen.alfansa.org/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hansen.alfansa.org/2009/07/seri-ha-1-pasang-drbd/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merubah assigned net card</title>
		<link>http://hansen.alfansa.org/2009/07/merubah-assigned-net-card/</link>
		<comments>http://hansen.alfansa.org/2009/07/merubah-assigned-net-card/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jul 2009 07:43:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hansen</dc:creator>
				<category><![CDATA[IT world]]></category>
		<category><![CDATA[free software world]]></category>
		<category><![CDATA[centos]]></category>
		<category><![CDATA[fedora]]></category>
		<category><![CDATA[networking]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hansen.alfansa.org/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[Bila kita mempunyai dua atau lebih kartu jaringan, kadang udev atau mekanisme assigning kartu ke dev secara otomatis tidak seperti yang kita inginkan. Seperti contoh yang saya alami dengan centos, onboard kartu jaringan di-assign sebagai eth1 dan kartu jaringan tambahan sebagai eth0, sementara saya ingin onboard yang eth0. Nah, gimana cara ngerubah ini? Untuk centos [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bila kita mempunyai dua atau lebih kartu jaringan, kadang udev atau mekanisme <em>assigning</em> kartu ke dev secara otomatis tidak seperti yang kita inginkan. Seperti contoh yang saya alami dengan centos, <em>onboard</em> kartu jaringan di-<em>assign</em> sebagai eth1 dan kartu jaringan tambahan sebagai eth0, sementara saya ingin <em>onboard</em> yang eth0. Nah, gimana cara ngerubah ini?</p>
<p>Untuk centos 5.3 yang masih menggunakan udev versi lama, maka ada beberapa file yang harus dirubah. Yang pertama adalah file /etc/modprobe.conf. Sebelumnya adalah:</p>
<pre>[root@hb1 ~]# cat /etc/modprobe.conf
alias eth0 3c59x
alias eth1 e100
</pre>
<p>e100 adalah driver untuk kartu jaringan onboard dan 3c59x adalah driver untuk kartu tambahan. Yang diinginkan onboar jadi eth0, maka kita rubah menjadi:</p>
<pre>[root@hb1 ~]# cat /etc/modprobe.conf
alias eth0 e100
alias eth1 3c59x
</pre>
<p>Selanjutnya adalah merubah file-file di /etc/sysconfig/network-scripts/ yaitu ifcfg-eth0 dan ifcfg-eth1 (kalau cuma 2 kartu). Pertama kita swap dulu nama kedua file tersebut dan kemudian adaptasikan perubahannya.</p>
<pre>[root@hb1 ~]# cat /etc/sysconfig/network-scripts/ifcfg-eth0
# Intel Corporation 82557/8/9/0/1 Ethernet Pro 100
DEVICE=eth0
BOOTPROTO=none
HWADDR=00:e0:18:25:20:dd
ONBOOT=yes
DHCP_HOSTNAME=hb1
TYPE=Ethernet
IPADDR=192.168.0.11
NETMASK=255.255.255.0
GATEWAY=192.168.0.1
USERCTL=no
IPV6INIT=no
PEERDNS=yes
</pre>
<p>Yang perlu dirubah paling DEVICE, IPADDR dan GATEWAY.</p>
<p>Untuk Fedora 10 keatas (dan turunannya serta Ubuntu yang baru serta turunannya) yang dilakukan lebih sederhana. TInggal rubah satu file saja yaitu file /etc/udev/rules.d/70-persisten-net.rules. Contoh yang satu kartu:</p>
<pre>[hansen@hansen ~]$ cat /etc/udev/rules.d/70-persistent-net.rules

# This file was automatically generated by the /lib/udev/write_net_rules
# program run by the persistent-net-generator.rules rules file.
#
# You can modify it, as long as you keep each rule on a single line.

# Silicon Integrated Systems [SiS] SiS900 PCI Fast Ethernet (rule written by anaconda)
SUBSYSTEM=="net", ACTION=="add", DRIVERS=="?*", ATTR{address}=="00:19:21:6e:72:43", ATTR{type}=="1", KERNEL=="eth*", NAME="eth0"
</pre>
<p>Tinggal sesuaikan pada bagian &#8216;NAME=&#8221;eth0&#8243;&#8216;.</p>
<p>Itu saja.</p>
<p>Update:<br />
Ternyata centos mengambil setingan terakhir (eth1) sebagai default route, sementara saya menginginkan eth0 sebagai default route-nya. Untuk merubahnya, tambahkan nilai GATEWAY dari /etc/sysconfig/network-scripts/ifcfg-eth0 kedalam /etc/sysconfig/network dan hapus GATEWAY dari file /etc/sysconfig/network-scripts/ifcfg-eth0 dan /etc/sysconfig/network-scripts/ifcfg-eth1</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hansen.alfansa.org/2009/07/merubah-assigned-net-card/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Problem menjalankan dosemu di Fedora 8 keatas</title>
		<link>http://hansen.alfansa.org/2009/04/problem-menjalankan-dosemu/</link>
		<comments>http://hansen.alfansa.org/2009/04/problem-menjalankan-dosemu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Apr 2009 04:20:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hansen</dc:creator>
				<category><![CDATA[free software world]]></category>
		<category><![CDATA[dosemu]]></category>
		<category><![CDATA[fedora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hansen.alfansa.org/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Masih membutuhkan dosemu di GNU/Linux OS untuk menjalankan program-program DOS lama? Mulai Fedora 8 yang ter-update (juga Ubuntu dan variasinya dengan kernel yang baru) kernelnya, dosemu tidak mau dijalankan lagi. Pesan error kalau dijalankan via terminal adalah sebagai berikut: LOMRAM mmap: Invalid argument Segmentation fault Hal ini disebabkan dosemu tidak bisa mengakses low memory yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masih membutuhkan dosemu di GNU/Linux OS untuk menjalankan program-program DOS lama? Mulai Fedora 8 yang ter-update (juga Ubuntu dan variasinya dengan kernel yang baru) kernelnya, dosemu tidak mau dijalankan lagi. Pesan error kalau dijalankan via terminal adalah sebagai berikut:</p>
<pre>LOMRAM mmap: Invalid argument
Segmentation fault</pre>
<p>Hal ini disebabkan dosemu tidak bisa mengakses low memory yang dibutuhkannya. Kenapa pada kernel yang lama masih bisa jalan? Ternyata mulai kernel tertentu yang lebih baru akses ke low memory diproteksi. Ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan masalah sekuritas dimasa datang yang mengeksploitasi low memory ini.</p>
<p>Dimana file yang mengatur proteksi ini? Untuk mengecek apakah low memory diproteksi atau tidak silahkan lihat file /proc/sys/vm/mmap_min_addr, misalkan dengan perintah cat. Kalau hasilnya 65536 berarti low memory diproteksi, kalau 0 berarti tidak. Dengan merubah isi file ini menjadi 0 sudah bisa menjalankan dosemu kembali, tetapi setiap menghidupkan komputer file ini akan berisi 65536 kembali. Bagaimana caranya supaya perubahan menjadi permanen?</p>
<p>Untuk fedora tambahkan baris berikut:</p>
<pre>vm.mmap_min_addr = 0</pre>
<p>pada file /etc/sysctl.conf</p>
<p>Begitu saja, dan pada saat menghidupkan komputer file /proc/sys/vm/mmap_min_addr akan berisi 0 terus dan dosemu akan bisa berjalan lancar. Untuk perubahan di Ubuntu dan turunannya bisa dilihat di blog-nya <a title="High-Tech Rojak" href="http://blog.abdullahsolutions.com/2009/01/running-dosemu-in-ubuntu-intrepid.html">High-Tech Rojak</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hansen.alfansa.org/2009/04/problem-menjalankan-dosemu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Seri HA 0] Kloning Sistem</title>
		<link>http://hansen.alfansa.org/2009/02/seri-ha-0-kloning-sistem/</link>
		<comments>http://hansen.alfansa.org/2009/02/seri-ha-0-kloning-sistem/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Feb 2009 07:16:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hansen</dc:creator>
				<category><![CDATA[IT world]]></category>
		<category><![CDATA[HA]]></category>
		<category><![CDATA[server]]></category>
		<category><![CDATA[virtual machine]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hansen.alfansa.org/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Apa hubungannya HA (High Availability) dengan kloning sistem? He.. he.. he.., saya ingin memasang HA ini di mesin virtual dulu, semacam simulasi dulu lah, baru nanti pasang di mesin sebenarnya. Ada beberapa catatan untuk mengkloning sistem di mesin virtual ini, dan ada yang berlaku juga apabila kita ingin menginstal sistem operasi dengan cara menyalin partisi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa hubungannya HA (High Availability) dengan kloning sistem? He.. he.. he.., saya ingin memasang HA ini di mesin virtual dulu, semacam simulasi dulu lah, baru nanti pasang di mesin sebenarnya. Ada beberapa catatan untuk mengkloning sistem di mesin virtual ini, dan ada yang berlaku juga apabila kita ingin menginstal sistem operasi dengan cara menyalin partisi. Mesin virtual yang digunakan adalah VirtualBox keluaran SUN. Ingin mencoba juga dengan qemu, tapi itu nanti dulu lah.</p>
<p>Kita mulai dengan membuat mesin virtual di VirtualBox dan menginstall sistem operasi, yang saya gunakan disini adalah Fedora 10. Setelah lengkap software-software yang terinstall, kita kloning hardisk virtualnya untuk dipakai di mesin virtual kedua. VirtualBox sebenarnya menyediakan alat untuk mengkloning hardisk virtual, perintahnya:</p>
<pre>[hansen@hansen ~]$ VBoxManage clonehd HB1.vdi HB2.vdi</pre>
<p>Tapi sayangnya hasil kloning dengan cara seperti itu menghasilkan hardisk virtual yang korup dan belum bisa dipakai (<a title="clonehd/clonevdi creating corrupted clones of VDI image" href="http://www.virtualbox.org/ticket/2813" target="_blank">tiket 2813</a>) dan berdasarkan tiket diatas bug tersebut sudah diperbaiki untuk rilis selanjutnya. Tetapi untungnya ada solusi yang dituliskan di komentar bug diatas. Kopi saja virtual hardisk yang sudah terinstall lengkap dan rubah uuid dari virtual hardisk hasil kopian dengan perintah:</p>
<pre>[hansen@hansen ~]$ VBoxManage internalcommands sethduuid HB2.vdi</pre>
<p>Mengapa semua perintah diatas diperlukan? Karena hardisk virtual mempunyai uuid unik untuk tiap filenya dan VirtualBox tidak bisa memakai hardisk virtual yang mempunyai uuid sama. Setelah beres, hardisk virtual kedua siap dipasang untuk mesin virtual kedua. Nyalakan mesin virtual kedua dan ternyata ada beberapa pernak-pernik kecil yang masih perlu dibenahi didalam sistemnya. Pembenahan ini bisa dilakukan juga untuk penginstallan sistem operasi dengan cara menyalin partisi hardisk.</p>
<p>Yang penting untuk dirubah: host key dari ssh server. Sistem hasil kloning akan mempunyai host key ssh server sama persis dengan master-nya. Hal ini harus dirubah demi keamanan dan host key ssh server tidak boleh sama untuk setiap mesin. Caranya ternyata gampang, di generate ulang. Fedora (atau ssh server) akan membuat host key saat pertama kali dijalankan. Nah dimana file-file host key tersebut? File-file tersebut berada di /etc/ssh/</p>
<pre>[hansen@hansen ~]$ ll /etc/ssh/
total 160
-rw------- 1 root root 125811 2008-10-17 15:44 moduli
-rw-r--r-- 1 root root   1964 2008-10-17 15:44 ssh_config
-rw------- 1 root root   3711 2008-10-17 15:44 sshd_config
-rw------- 1 root root    668 2008-08-21 14:52 ssh_host_dsa_key
-rw-r--r-- 1 root root    590 2008-08-21 14:52 ssh_host_dsa_key.pub
-rw------- 1 root root    963 2008-08-21 14:52 ssh_host_key
-rw-r--r-- 1 root root    627 2008-08-21 14:52 ssh_host_key.pub
-rw------- 1 root root   1675 2008-08-21 14:52 ssh_host_rsa_key
-rw-r--r-- 1 root root    382 2008-08-21 14:52 ssh_host_rsa_key.pub</pre>
<p>File-file yang di generate adalah ssh_host* Jadi hapus saja file-file tersebut agar nanti waktu ssh server dijalankan akan men-generate lagi. Sebelum menghapus matikan dulu service sshd dengan perintah &#8216;service sshd stop&#8217;, setelah itu hapus file ssh_host* tersebut dan jalankan lagi service sshdnya. Viola, akan ada file ssh_host* yang baru dan berbeda dengan ssh_host* dari master.</p>
<p>Yang tidak terlalu penting tapi menggelitik saja: kartu jaringan mesin virtual kedua penomorannya tidak dimulai dari 0 (eth0). Kenapa begitu? Fedora (udev tepatnya) ternyata merekan penomoran kartu jaringan yang dikaitkan dengan MAC address suatu kartu jaringa. Jadi praktis nomor 0 adalah milik kartu jaringan pertama dari master (no seterusnya juga kalau di master ada lebih dari satu kartu jaringan). Kapan dan dimana rekamannya? Saat pertama kali boot dan tertulis di file 70-persisten-net.rules di folder /etc/udev/rules.d Coba kita lihat isi file tersebut:</p>
<pre>[hansen@hansen ~]$ cat /etc/udev/rules.d/70-persistent-net.rules

# This file was automatically generated by the /lib/udev/write_net_rules
# program run by the persistent-net-generator.rules rules file.
#
# You can modify it, as long as you keep each rule on a single line.

# Silicon Integrated Systems [SiS] SiS900 PCI Fast Ethernet (rule written by anaconda)
SUBSYSTEM=="net", ACTION=="add", DRIVERS=="?*", ATTR{address}=="00:19:21:6e:72:43", ATTR{type}=="1", KERNEL=="eth*", NAME="eth0"</pre>
<p>Dua baris terakhir adalah rekaman tersebut, jadi hapus saja kedua baris terakhir dan boot ulang (ugh.. kenapa harus boot ulang? Mungkin resart service-nya udev bisa juga, belum coba)</p>
<p>Nah dua mesin virtual sudah siap untuk di-setup sebagai HA! Lanjut ke seri 1.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hansen.alfansa.org/2009/02/seri-ha-0-kloning-sistem/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fedora 7 meet Presario V3320TU</title>
		<link>http://hansen.alfansa.org/2007/07/fedora-7-meet-presario-v3320tu/</link>
		<comments>http://hansen.alfansa.org/2007/07/fedora-7-meet-presario-v3320tu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jul 2007 11:54:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hansen</dc:creator>
				<category><![CDATA[rest of the world]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hansen.alfansa.org/2007/07/16/fedora-7-meet-presario-v3320tu/</guid>
		<description><![CDATA[Sudah lama saya pengen punya laptop yang diinstall Fedora. Dan akhirnya saya dapat juga kesempatan itu, Compaq Presario V3320TU belum lama bisa saya dapatkan Saatnya mencoba apa saja yang jalan dengan mulus kalau diinstall Fedora 7 dan hardware apa saja yang masih belum mau jalan. Karena saya mencoba mencari sebanyak mungkin komponen hardware yang bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah lama saya pengen punya laptop yang diinstall Fedora. Dan akhirnya saya dapat juga kesempatan itu, Compaq Presario V3320TU belum lama bisa saya dapatkan <img src='http://hansen.alfansa.org/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' />  Saatnya mencoba apa saja yang jalan dengan mulus kalau diinstall Fedora 7 dan hardware apa saja yang masih belum mau jalan.<br />
<span id="more-11"></span><br />
Karena saya mencoba mencari sebanyak mungkin komponen hardware yang bisa jalan tanpa susah payah men-setting, maka laptop Compaq ini memang sebagian besar komponen hardware-nya bisa dikenali dan dipakai dengan baik pada Fedora 7. Berikut list-nya:</p>
<ul>
<li>Video: laptop ini memakai Intel 945GM dan sejauh ini saya pikir chip Intel saja (chip yang baru tentunya) yang disupport dengan baik driver free software-nya. Jadi video-nya &#8216;just work&#8217; dan 3D-nya juga ok. Fancy desktop via AIGLX-compiz atau beryl jalan dengan baik</li>
<li>DVD-RW, gak masalah, dapat membaca (tentu saja!) dan menulis dengan baik</li>
<li>Wireless, chip yang dipakai adalah Intel PRO/Wireless 3945ABG. Dan sepertinya lagi-lagi Intel emang suporter free software yang baik <img src='http://hansen.alfansa.org/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' />  Jalan dengan bagus. Tinggal aktifin NetworkManager service-nya dan langsung mencari hotspot yang ada. Hanya ada satu masalah kecil berkaitan dengan wireless ini, switch on-off-nya tidak jalan. Jadi kalau waktu booting switch dalam keadaan off setelah booting tidak bisa di-on-kan, harus reboot. Saya belum tau pemecahannya. Tapi hal ini bukan berkaitan dengan chip wireless-nya, ini masalah input/keyboard problem</li>
<li>Bluetooth, &#8216;just work&#8217; juga. Yang ini tidak terkena efek switch wireless-nya walaupun switch on-off wireless berkaitan dengan wifi dan bluetooth. Coba konek HP LG KG300 dan presto.. nautilus/file manager bisa mentransfer file dari komputer ke HP</li>
<li>Apalagi ya&#8230;, networking! Pakai chip Intel juga, PRO/100 VE dan &#8216;just work&#8217; juga</li>
<li>Laptop ini ada card readernya, coba masukin SD card dan langsung otomatis nongol icon-nya di desktop, kalau SD ini isinya dari kamera, Fedora langsung menawarkan import foto! I love how this GNU/Linux way! <img src='http://hansen.alfansa.org/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </li>
<li>USB gak ada masalah, another &#8216;just work&#8217;</li>
<li>Firewire (IEEE 1394), sepertinya dikenali tetapi karena saya tidak punya device yang menggunakan ini jadi tidak bisa mengujinya <img src='http://hansen.alfansa.org/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':-(' class='wp-smiley' />  anyway, saya mungkin tidak akan memakainya <img src='http://hansen.alfansa.org/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </li>
<li>Audio, chipnya Intel juga, dikenali sebagai 82801G (ICH7 Family) High Definition Audio, dikenali dengan baik juga. Cuma sayang mic-nya belum jalan. Waktu saya coba Ubuntu 7.04 mic bisa jalan. Jadi ini Fedora problem. Agak &#8216;just work&#8217; <img src='http://hansen.alfansa.org/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </li>
<li>Modem, ini yang susah. Kebanyakan laptop memakai soft-modem dan itu sangat bermasalah karena vendor hanya support win family untuk driver-nya. Googling sana-sini katanya yang ini bisa jalan tetapi saya belum nemu celahnya untuk mbikin dia bekerja</li>
<li>ExpressCard, sepertinya dikenali juga, tetapi lagi2 karena gak punya device yang konek pakai ini ya gak bisa membuktikan <img src='http://hansen.alfansa.org/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </li>
<li>Hibernate/Suspend, harusnya &#8216;just work&#8217; tapi sayang dengan kernel yang ada sekarang hanya hibernate yang &#8216;just work&#8217;, suspend masih bermasalah tapi dengan kernel versi dev bisa support, bonusnya mic juga jalan <img src='http://hansen.alfansa.org/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </li>
</ul>
<p>Feww&#8230; panjang juga list-nya, all in all, Fedora meet Presario V3320TU sebagian besar &#8216;just work&#8217; <img src='http://hansen.alfansa.org/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':-P' class='wp-smiley' />  Untuk saat ini buat yang pengen cari laptop dan menginstall GNU/Linux rekomendasi saya adalah cari vga-nya Intel, wireless juga Intel, ethernet bebas lah.., CD/DVD juga gak problem mau merek apa saja, audio susah untuk milih, jadi ya berdoa saja supaya &#8216;just work&#8217; <img src='http://hansen.alfansa.org/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':-P' class='wp-smiley' />  Tapi dari baca sana-sini lebih banyak yang gak masalah. Kalau modem ya itu tadi, out of luck.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hansen.alfansa.org/2007/07/fedora-7-meet-presario-v3320tu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>7 langkah mudah instalasi PBX software dan VOIP server (asterisk)</title>
		<link>http://hansen.alfansa.org/2006/12/7-langkah-instalasi-asterisk/</link>
		<comments>http://hansen.alfansa.org/2006/12/7-langkah-instalasi-asterisk/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Dec 2006 02:49:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hansen</dc:creator>
				<category><![CDATA[IT world]]></category>
		<category><![CDATA[free software world]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hansen.alfansa.org/2006/12/05/7-langkah-mudah-untuk-instalasi-pabx-software-dan-voip-server-asterisk/</guid>
		<description><![CDATA[Ingin punya PBX software atau VOIP server sendiri? Mudah, ikuti 7 langkah instalsinya berikut ini. Saya menggunakan Fedora Core 6, yang versi 5 juga bisa. Anda harus sudah terbiasa menggunakan command line (kalau ingin menginstall server software di GNU/Linux tentunya sudah) dan perintah-perintah dibawah semua menggunakan user root. Download asterisk dan asterisk-addons di ATrpms. Kalau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ingin punya PBX software atau VOIP server sendiri? Mudah, ikuti 7 langkah instalsinya berikut ini. Saya menggunakan Fedora Core 6, yang versi 5 juga bisa. Anda harus sudah terbiasa menggunakan command line (kalau ingin menginstall server software di GNU/Linux tentunya sudah) dan perintah-perintah dibawah semua menggunakan user root.</p>
<ol>
<li>Download <a title="asterisk 1.2.13" href="http://dl.atrpms.net/all/asterisk-1.2.13-30.fc6.at.i386.rpm">asterisk</a> dan <a title="asterisk-addons 1.2.5" href="http://dl.atrpms.net/all/asterisk-addons-1.2.5-12.fc6.at.i386.rpm">asterisk-addons</a> di ATrpms. Kalau anda sudah mengkonfigurasi repositori ATrpms dalam yum anda tinggal melakukan perintah &#8216;yum install asterisk asterisk-addons&#8217; saja dan langkah kedua dan ketiga bisa diabaikan.</li>
<li>Intall dulu dependensi yang diperlukan, software-software ini ada di repositori extras-nya Fedora Core:<br />
<code> # yum install zaptel zaptel-lib libpri </code></li>
<li>Setelah itu baru install asterisk dan asterisk-addons:<br />
<code> # cd /tempat-download-asterisk/<br />
# rpm -Uvh asterisk-1.2.13-30.fc6.at.i386.rpm \<br />
asterisk-addons-1.2.5-12.fc6.at.i386.rpm </code></li>
<li>Coba test apakah asterisk bisa berjalan:<br />
<code> # service asterisk start<br />
Starting asterisk:                                         [  OK  ]<br />
</code> Kalau keluar [  OK  ] berarti asterisk bisa berjalan dengan baik.</li>
<li>By default asterisk akan dijalankan waktu komputer dinyalakan, kalau anda ingin mengubahnya menjadi manual bisa diseting dengan chkconfig:<br />
<code> # chkconfig asterisk off </code></li>
<li>Konfigurasi! Untuk lebih detailnya bisa baca &#8216;<a title="Manual Asterisk IP PBX" href="http://www.voiprakyat.or.id/?inc=files&#038;file=manual-ippbx-asterisk-fundamental1.pdf">Manual Asterisk IP PBX</a>&#8216; tulisannya Anton Raharja atau &#8216;<a onmousedown="selectLink(9);" id="p9" href="http://hansen.alfansa.org/wp-content/uploads/2006/12/instalasi-asterisk-minimal-10-2006.pdf">Instalasi Minimal Asterisk</a>&#8216; tulisannya pak Onno.</li>
<li>Setelah melakukan perubahan jangan lupa me-reload asterisk service, kalau tidak puas dengan reload bisa juga restart <img src='http://hansen.alfansa.org/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /><br />
<code> # service asterisk reload<br />
</code> atau<br />
<code> # service asterisk restart<br />
</code></li>
</ol>
<p>Jadilah PBX software sekaligus VOIP server anda! Selamat menikmati..</p>
<p>Update: dapat ijin dari pak Onno untuk upload dokumennya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hansen.alfansa.org/2006/12/7-langkah-instalasi-asterisk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tidak punya CD Burning mau install Fedora? Gak masalah!</title>
		<link>http://hansen.alfansa.org/2006/12/install-fedora-dari-hardisk/</link>
		<comments>http://hansen.alfansa.org/2006/12/install-fedora-dari-hardisk/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Dec 2006 12:06:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hansen</dc:creator>
				<category><![CDATA[IT world]]></category>
		<category><![CDATA[free software world]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hansen.alfansa.org/2006/12/01/tidak-punya-cd-burning-mau-install-fedora-gak-masalah/</guid>
		<description><![CDATA[Yup, betul. Kita bisa install Fedora dengan file-file .iso yang kita download. Walaupun anda mempunyai CD/DVD burning dan ingin membakar CD atau DVD, install melalui file .iso yang ada di hardisk tetap menarik karena jauh lebih cepat. Gak sampai setengah jam Fedora baru anda telah siap! Anda cuma punya partisi fat32? Juga bisa. Yang perlu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yup, betul. Kita bisa install Fedora dengan file-file .iso yang kita download. Walaupun anda mempunyai CD/DVD burning dan ingin membakar CD atau DVD, install melalui file .iso yang ada di hardisk tetap menarik karena jauh lebih cepat. <em>Gak</em> sampai setengah jam Fedora baru anda telah siap! Anda cuma punya partisi fat32? Juga bisa.</p>
<p>Yang perlu disiapkan:</p>
<ul>
<li>Boot loader yang dipakai adalah GRUB. Kalau sebelumnya anda sudah mempunyai salah satu distro GNU/Linux biasanya boot loadernya sudah GRUB. Kalau belum, bisa bikin boot disk yang akan menjalankan GRUB terlebih dahulu. Minta tolong teman yang sudah pakai GRUB dan jalankan perintah-perintah ini:<br />
Masuk ke folder grub<br />
<code> # cd /boot/grub/<br />
</code> Siapkan disket, periksa apakah ada file stage1 dan stage2 di folder ini. Lanjutkan..<br />
<code> # dd if=stage1 of=/dev/fd0 bs=512 count=1<br />
# dd if=stage2 of=/dev/fd0 bs=512 seek=1<br />
</code>Dan siaplah disket GRUB-nya.</li>
<li>File .iso dari Fedora baik CD iso ataupun DVD iso. Letakkan dalam satu folder dan tulis letaknya. Oh ya, partisi tempat dimana iso itu berada harus diingat juga dan lakukan konversi untuk perintah di GRUB. Misalnya ada dipartisi /dev/hda4, konversinya (hd0,3). Kalau di /dev/hdb6 konversinya (hd1,5). Untuk di windows kalau di drive C biasanya dikonversi ke (hd0,0), tapi kalau di drive D biasanya dikonversi ke (hd0,4).</li>
<li>File-file yang diperlukan untuk booting ke Fedora installer, file-file ini bisa diambil dari CD1 file iso atau dari DVD, satu folder yang bernama isolinux. Bisa juga di-download dari mirror-nya Fedora.</li>
</ul>
<p>Yak, itu saja. Ada lagi dink, keingintahuan dan backup data-data yang ada di hardisk anda tentunya. Kalau semua sudah, ayo kita mulai&#8230; <span id="more-7"></span></p>
<p>Booting ke GRUB dan masuk ke command line-nya GRUB. Kalau boot pakai floppy biasanya langsung masuk ke command line. Kalau pakai GRUB yang sudah ada langsung tekan &#8216;c&#8217; untuk masuk ke command line</p>
<p>Setelah masuk command line, ketikkan perintah-perintah berikut tergantung dari persiapan kita sebelumnya:</p>
<p><code> # root (hd0,0)<br />
</code>folder disini dimisalkan isolinux, kalau berbeda silahkan sesuaikan</p>
<p><code> # kernel /isolinux/vmlinuz<br />
# initrd /isolinux/initrd.img<br />
# boot<br />
</code></p>
<p>Selanjutnya instalasi Fedora akan dimuali. Pertama-tama akan diminta setting language dan keyboard. Selanjutnya pilih media Hardisk untuk tempat media instalasinya. Disini akan didaftar partisi yang tersedia dan pilihlah partisi tempat kita menyimpan file-file iso. Selanjutnya  kita tulis folder tempat menyimpannya, misal /fc6iso.</p>
<p>Dan&#8230; lanjutkan proses instalasi seperti menge-set partisi, memilih software-software sampai tiba saat proses instalasi Fedora mulai meng-install sofware-software. Sampai saatnya ada konfirmasi mulai menulis ke hardisk kita masih bisa kembali ke langkah-langkah sebelumnya dan belum ada perubahan apa-apa dikomputer kita.</p>
<p>Begitu mulai men-ginstall  macam-macam software tinggal saja ke dapur bikin kopi atau teh atau nonton tv atau baca buku dan kembali lagi setengah jam-an. Fedora telah siap&#8230; Gak perlu ganti-ganti CD, gak perlu setting lagi, tinggal boot dan siap pakai&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hansen.alfansa.org/2006/12/install-fedora-dari-hardisk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 0.415 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2010-09-04 00:20:09 -->
